Mini Album Kedua dari The Kiriks Sekaligus Hadiah di Malam Natal

Standard

EAR[37] – The Kiriks – Rah EP (2013)

 

Malam Natal. Malam yang Natal. Selalu ada garis-garis maya pembayang kebahagiaan yang menyelimuti setiap aktifitas yang dilakukan oleh umat-umat yang menari karenanya, merapat dan bernyanyi. Tak terbayangkan kah jika perayaan dilakukan dengan perasaan dalam selimut yang berbeda dengan yang sudah-sudah. Kami seperti merasakan senyawa yang seperti itu dalam teluran rilisan yang jatuh dari angkasa sana ini, kali ini. Kerap kali kita dibinarkan oleh warna merah kostum Santa Claus yang dikenakanya tiap malam Natal untuk menebar kebahagiaan berbentuk kado-kado yang bermuara kebahagiaan dari setiap penganut harapan. Lihatlah, warna merah kostum itu, di sisi yang lain warna merah, merupakan ciptaan lain yang mengalir deras dalam tubuh umat yang menari, telinga-telinga yang menggantung, darah-darah yang dipompa dari atas kebawah dan begitu juga sebaliknya. Kembali kami bayangkan lagi, darah-darah itu dihalangi mobilitas pergerakanya dengan tiap nikotin yang merasuk dalam tubuh, melalui hisapan-hisapan penuh birahi dari umat-umat yang menari. Sesak namun nikmat. Nista sekali bukan. Sekali lagi agar lebih jelas, lalu kami membayangkan bintang-bintang di angkasa. Pada malam Natal bintang itu dipakai sebagai aksesori pohon-pohon yang dibeli oleh umat yang menari. Begitu indah, warnanya kuning mengkilat, terpusat oleh harapan-harapan bagi yang menganut. Lalu kami teringat lagu tentang bintang kecil di langit yanhg biru. Yang dalam skala rasionalitasnya sendiri Wedipaw menafsirkanya kembali dalam lagu, kalau bintang kecil itu ada di langit yang hitam. Mereka melihat keindahan bintang-bintang itu, kemilau kilapanya, ada pada langit yang hitam. Yang pada skala rasionalitas yang lain, bintang itu ada di langit yang biru. Terang dan Gelap, Terang dan Terang, semuanya sama-sama indah, tapi jauh mana yang lebih nikmat, itu kembali pada umat yang menentukan, yang kemudian lebih banyak mana yang diterapkan sehingga bisa menjadi sebuah harapan (patokan). Belum lagi ada juga yang dinamakan bintang jatuh yang dapat mengabulkan harapan. Belum lagi ada juga bintang jatuh yang suaranya beigut keras, dan dampakanya begitu meneror stabilitas umat yang berhabitat di tempat yang dijatuhi. Kami mencoba membayangkan hal-hal tersebut untuk merangkai untaian kata-kata pengantar dalam rilisan yang dilepas oleh The Kiriks kali ini melalui kami. Yang kami rasakan bahagia adalah bentuknya beraneka, caranya beraneka, penafsiranya beraneka, dan banyak lagi faktor-faktor keanekaan dalam melakukan perbuatan membuat bahagia yang diselebrasikan.
 
Karya The Kiriks kali ini, meskipun judulnya tidak menceritakan tentang bintang di angkasa, darah yang mengalir melalui nadi-nadi, apalagi tentang sebuah selebrasi. Namun tiap kata yang kami untai pada paragraf sebelumnya, kami rasa itu merupakan sebuah kumpulan tersendiri yang selalu ada pada setiap kegiatan merilis yang kami lakukan. Meskipun tak berkala, kami menselebrasikanya, kami pernah merilis lagu tentang bintang, darah kami mengalir tak tentu karena tiap-tiap racun yang kami hisap dengan birahi yang menggebu masuk ke dalamnya, dan The Kiriks…. kami melihat sampul dari rilisan ini, dan ada langit di sana. Langit yang tidak gelap, dan tidak juga terang, yang tidak tentu ada bintangnya atau tidak. Meskipun ada suara yang tak kencang kami biarkan, karena kami suka, kami biarkan agar ini semua tetap murni. Menyatu dan bersalin dalam sunyi pada tiap binar bintang yang berseri. Kami merasa, kalau rilisan ini dapat menyuarakan sesuatu tentang bintang, tentang harapan yang harus dianut atau tidak harus dianut, dan kami yakin bahwa kebahagiaan itu ada, namun tak harus ditari-tarian, tak harus berlari-larian, tak harus ada teriak-teriakan, tak harus bentuknya sama. Kami…. kita… bisa berbahagia bagaimanapun kita mau… tidak berbahagia bagaimanapun kita mau… untuk itu maka ini adanya kami dan mereka terus saja bertelur. Bentuknya berbeda-beda, beraneka, tafsiranya macam-macam. Dan semuanya termabukan. Jangan sampai kelewatan. Coba lewati bahagia dengan harapan mau sedikit atau banyak. Ini sebuah selebrasi dari kami. Berbahagialah. Salam.