DKM

Standard

Image

http://www.theeasypace.com/dani-kusumawijaya-mayr-cedars-of-lebanon/

 

Advertisements

Debut Mini Album dari Dani Kusumawijaya Mayr

Standard

EAR[40] – Dani Kusumawijaya Mayr – Cedars Of Lebanon (2014)

 

Hai. Mungkin bisa sepertinya ya kalau kami ingin melihat jumlah rilisan yang sekarang kami lepas ini sudah mencapai angka yang di atas itu, seperti melihat usia yang kami tempuh, meskipun secara riil tidak bisa seperti itu tapi sekali-kali tidak apa bukan untuk melihat yang tidak untuk dilihat. Jangan panik, ini bukan senja ataupun malam, ini hanyalah sia-sia dan tanggung-tanggung saja. Jadi pada apa yang kami katakan tentang usia seperti di atas, yah, kami pada sebuah prolog ini ingin menekankan sebuah penasaran dan perasaan yang kami rasakan dan kami rasan-rasan, ya kami rasa bahwa sekali-kali serius itu juga tidak ada salahnya, bahkan untuk waktu lama (tidak sekali-kali) bahkan selamanya, dan selamanya tidak. Jadi kami tekankan dan ceritakan, bahwa ya yang kami suka itu ya seperti ini. Bukan masalah memilih mana yang suka dan tidak suka ketika merasakan, mengecap, dan sepakat untuk melepaskanya. Kami ini… juga suka mengais… kami kais-kais apa-apa itu yang berjatuhan yang ada di bawah yang sepoerti tak terlihat dan bahkan tak terdengar. Kami usap-usap dan jamah-jamah dengan telapak yang serba terbatas ini untuk kemudian kami masukan dalam kantong atau wadah untuk kemudian dibagikan kepada semua yang menginginkan, entah dengan keraguan atau tanpa keraguan. Dan mungkin itu yang disebut orang-orang dengan sebutan kurasi. Dan kurasi itu memiliki nama… ya namanya Ear Alert. Pengirim sinyal pada telinga-telinga yang penuh keengganan untuk menajamkan perhatian dan selalu bersiaga meskipun tidak harus selalu menjadi dalam. Yang jelas kami juga tidak sedalam itu. Kami mengendalikan kedalaman itu agar kami bisa kembali lagi juga untuk melihat apa yang terjadi di permukaan. Sehingga sebetulnya kami berusaha menghibur diri dan kami tidak tahu apakah ini adalah pembelaan bahwa, tidak ada salahnya berserius atau bertekun-tekun, atau sekedar mengernyitkan dahi pada suatu objek yang harus dikais itu, toh dunia ini juga bukan milik para manusia, dan juga bukan milik para kera. Karena itu kita bebas untuk tulus, setulus-tulusnya tulus.
 
Jadi, disini kita melihat sesuatu yang amat tidak terang. Tidak terang sehingga amat tidak terlihat. Sehingga yang terlihat hanya ketidak terangan. Kabur-kabur, remang-remang, petang-petang. Melihat sesuatu yang tidak terang, kemudian juga bisa dibilang sama sulitnya ketika akan menjelaskan sesuatu yang tidak terang tersebut. Susah bukan menerangkan sesuatu yang dari awal sudah tidak terang, kan sudah pernah kami bilang. yah, mungkin ini hampir sama halnya ketika kalian mendengar atau melihat performa atau rekaman dari proyek solois mabuk, Sabarbar. Sudah kami bilang kami tidak sedalam itu, tapi mungkin jika kita bisa sedikit memperhatikan, kalau Dani Kusumawijaya Mayr memiliki sesuatu yang ingin disampaikan terlebih dari Sabarbar, itupun jika kalian mau menggunakan kepekaan yang sama dengan kami, atau ingin sedikit lebih menelisik. Yang jelas Dani juga merupakan salah satu aktivis dan penggemar bebunyian yang apa kami bilang dalam prolog pada paragraf (atau bukan paragraf ?) sebelumnya dan dia juga memiliki kata. Kata yang bisa kalian baca dalam kemasan digital berkas bebunyian yang kami unggah dan bisa kalian unduh gratis dalam laman ini. Kami cukup tersentuh dengan apa yang dia katakan tentang ruang, dan apresiasi. Tidak dalam dan juga tidak naif. Biasa-biasa saja-isme yang menyentuh dan membobos sanubari kami untuk menetaskan berkas-berkas yang ada di dalamnya ini. Untuk dilepas bagai tekukur yang merindukan kebebasan yang ada di luar sangkar. Tanpa sadar kami sudah mencapai batas, dan menabrak sudut ini, yah sebuah sudut yang tidak terlalu terang untuk bisa kembali diterangkan. Mungkin akan lebih terang jika ketidak terangan dari sudut yang tidak terang ini jikalau didengarkan. Biarkan bahasa tulisan dan bahasa lisan untuk bisu sejenak, agar apa yang terkubur sebenarnya dalam sebuah karya yang mengandung sesuaraan itu dapat menyeruak, melambai-lambai seperti asap yang bernyawa, untuk membobol semua telinga-telinga yang enggan, masuk, menendang-nendang seperti bayi yang butuh kasih sayang, meskipun kadang sekedar rasa sayang pun tak selalu akan terus dibalaskan. Selamat bersayang-sayang, dan untuk tidak bersayang-sayang. Silahkan. Salam.
 

Mini Album Kedua dari The Kiriks Sekaligus Hadiah di Malam Natal

Standard

EAR[37] – The Kiriks – Rah EP (2013)

 

Malam Natal. Malam yang Natal. Selalu ada garis-garis maya pembayang kebahagiaan yang menyelimuti setiap aktifitas yang dilakukan oleh umat-umat yang menari karenanya, merapat dan bernyanyi. Tak terbayangkan kah jika perayaan dilakukan dengan perasaan dalam selimut yang berbeda dengan yang sudah-sudah. Kami seperti merasakan senyawa yang seperti itu dalam teluran rilisan yang jatuh dari angkasa sana ini, kali ini. Kerap kali kita dibinarkan oleh warna merah kostum Santa Claus yang dikenakanya tiap malam Natal untuk menebar kebahagiaan berbentuk kado-kado yang bermuara kebahagiaan dari setiap penganut harapan. Lihatlah, warna merah kostum itu, di sisi yang lain warna merah, merupakan ciptaan lain yang mengalir deras dalam tubuh umat yang menari, telinga-telinga yang menggantung, darah-darah yang dipompa dari atas kebawah dan begitu juga sebaliknya. Kembali kami bayangkan lagi, darah-darah itu dihalangi mobilitas pergerakanya dengan tiap nikotin yang merasuk dalam tubuh, melalui hisapan-hisapan penuh birahi dari umat-umat yang menari. Sesak namun nikmat. Nista sekali bukan. Sekali lagi agar lebih jelas, lalu kami membayangkan bintang-bintang di angkasa. Pada malam Natal bintang itu dipakai sebagai aksesori pohon-pohon yang dibeli oleh umat yang menari. Begitu indah, warnanya kuning mengkilat, terpusat oleh harapan-harapan bagi yang menganut. Lalu kami teringat lagu tentang bintang kecil di langit yanhg biru. Yang dalam skala rasionalitasnya sendiri Wedipaw menafsirkanya kembali dalam lagu, kalau bintang kecil itu ada di langit yang hitam. Mereka melihat keindahan bintang-bintang itu, kemilau kilapanya, ada pada langit yang hitam. Yang pada skala rasionalitas yang lain, bintang itu ada di langit yang biru. Terang dan Gelap, Terang dan Terang, semuanya sama-sama indah, tapi jauh mana yang lebih nikmat, itu kembali pada umat yang menentukan, yang kemudian lebih banyak mana yang diterapkan sehingga bisa menjadi sebuah harapan (patokan). Belum lagi ada juga yang dinamakan bintang jatuh yang dapat mengabulkan harapan. Belum lagi ada juga bintang jatuh yang suaranya beigut keras, dan dampakanya begitu meneror stabilitas umat yang berhabitat di tempat yang dijatuhi. Kami mencoba membayangkan hal-hal tersebut untuk merangkai untaian kata-kata pengantar dalam rilisan yang dilepas oleh The Kiriks kali ini melalui kami. Yang kami rasakan bahagia adalah bentuknya beraneka, caranya beraneka, penafsiranya beraneka, dan banyak lagi faktor-faktor keanekaan dalam melakukan perbuatan membuat bahagia yang diselebrasikan.
 
Karya The Kiriks kali ini, meskipun judulnya tidak menceritakan tentang bintang di angkasa, darah yang mengalir melalui nadi-nadi, apalagi tentang sebuah selebrasi. Namun tiap kata yang kami untai pada paragraf sebelumnya, kami rasa itu merupakan sebuah kumpulan tersendiri yang selalu ada pada setiap kegiatan merilis yang kami lakukan. Meskipun tak berkala, kami menselebrasikanya, kami pernah merilis lagu tentang bintang, darah kami mengalir tak tentu karena tiap-tiap racun yang kami hisap dengan birahi yang menggebu masuk ke dalamnya, dan The Kiriks…. kami melihat sampul dari rilisan ini, dan ada langit di sana. Langit yang tidak gelap, dan tidak juga terang, yang tidak tentu ada bintangnya atau tidak. Meskipun ada suara yang tak kencang kami biarkan, karena kami suka, kami biarkan agar ini semua tetap murni. Menyatu dan bersalin dalam sunyi pada tiap binar bintang yang berseri. Kami merasa, kalau rilisan ini dapat menyuarakan sesuatu tentang bintang, tentang harapan yang harus dianut atau tidak harus dianut, dan kami yakin bahwa kebahagiaan itu ada, namun tak harus ditari-tarian, tak harus berlari-larian, tak harus ada teriak-teriakan, tak harus bentuknya sama. Kami…. kita… bisa berbahagia bagaimanapun kita mau… tidak berbahagia bagaimanapun kita mau… untuk itu maka ini adanya kami dan mereka terus saja bertelur. Bentuknya berbeda-beda, beraneka, tafsiranya macam-macam. Dan semuanya termabukan. Jangan sampai kelewatan. Coba lewati bahagia dengan harapan mau sedikit atau banyak. Ini sebuah selebrasi dari kami. Berbahagialah. Salam.
 

Tentang Debut EP The Kiriks – Metafisika di Dunia Maya

Standard

Setelah hampir beberapa bulan tidak rilis karena menunggu Ear Alert Records merilis EP kedua kami yang sudah lama kami submit, kami mengecek mengenai The Kiriks di dunia maya. Sesuatu yang cukup bagus muncul, karena ternyata musik-musik dari EP Metafisika sudah banyak tersedia di berbagai website musik. Entah siapa yang membuatnya atau menguploadnya, yang pasti pendengar bisa mengakses musik The Kiriks selain dari netlabel kami. Beberapa situs musik yang menyediakan musik The Kiriks antara lain http://ohmytracks.com/#/music/The+Kiriks dari ohmytracks, http://www.last.fm/music/The+Kiriks dari lastfm, http://www.reverbnation.com/thekiriks dari reverbnation, http://mp3.com/artist/The%2BKiriks dari website unduhan musik mp3.com. dan pastinya masih tersedia pada netlabel asal Jogjakarta ini   http://earalertrecords.blogspot.com/2013/06/ear27-kiriks-metafisika-ep-2013.html

Silakan dinikmati dan tunggulah rilisan The Kiriks selanjutnya baik dalam format digital maupun rilisan fisik.

EAR[27] – The Kiriks – Metafisika EP (2013)

Standard

 

 

 

Hei. Maaf ya sebelumnya, sebenarnya kami kemarin ingin menelurkan dua rilisan sekaligus. Tapi apa daya seonggok manusia yang menyukai teknologi tapi belum benar-benar fasih dalam pemahamanya pasti tak luput dari kesalahan. Ternyata file dari sang pembuat karya ini tidak bisa diunggah disitus yang biasanya. Jadi dengan terpaksa tanpa harus membuang waktu lebih lama lagi, kami uplaod saja filenya di akun resmi dropbox kami. Jadi mohon maaf sebelumnya dan mohon maklumnya ya para pendengar setia yang rela kami ‘japit’ telinganya. Setelah jeda beberapa rilisan, kami sudah lama tidak melepaskan rilisan yang benar-benar memabukan secara harafiah maupun terminologis dan suaranitas. Dan rilisan yang kali ini, kami berani menjaminya. Lagi-lagi hampir sama permasalahanya dengan rilisan yang sebelumnya. Ketika memakai bahasa sendiri, sering banyak anggapan bahwa tujuan atau makna dari kata-kata yang disiratkan oleh sang pembuat karya sebagai nama atau judul dari karya buatanya seolah dianggap hanya sebagai ungkapan-ungkapanya yang diharapkan mendapat reaksi tawa pingkal yang hanya sekejap. Sesungguhnya suara itu ya suara, maka dengarkan lah. Nama atau judul itu lah sebenarnya yang hanya siratan sekejap. Supaya anda semua tahu, apa namanya, meskipun tak berarti, anda pasti ingin sekali kan memenuhi hasrat manusia ketika mereka ingin membuat sebuah istilah atau sebutan. Jadi syukurilah ketika ada manusia lain yang membuat karya lalu bersedia untuk mebubuhinya dengan nama, apapun itu namanya dan apapun itu maknanya, hasrat kalian telah terpenuhi bukan ? Toh kalian sama-sama punya hasrat.  Jadi, disini yang kita punyai adalah, satu garis berulang yang sedikit bengkok disana dan disininya. Irama-irama loop yang kental akan eksperimentasi yang diperbuat kepada satu obyek bernama sumber suara. Dan lalu menghasilkan satu suara yang memabukan adanya, bagi kita, khusunya kami, sang perespon suara. Dan satu hal lagi yang cukup membuat kami terpana akan apa yang telah dilakukan oleh Dani The Kiriks, hal yang diperbuatnya adalah sekali lagi, hal yang minimalis. Kami benar-benar baru mengenal sosok beliau setelah beliau mengirimkan sesuatu kepada kami melalui saluran surat elektron. Dan keberanian itu membuat kami terpana, apalagi setelah mendengarkan sesuaraanya yang memabukan. Makanya kami ingin melepas karya beliau pada anda sekalian bersamaan dengan satu karya memabukan lainya dari Sabarbar. Tapi yasudah, memabukan tetaplah memabukan, mau dimana kapanpun ditenggakanya ke dalam telinga. Lalu ditekan, merasuk kedalam urat syaraf lalu sampai keotak. Dan berhasil keluar menjadi ekspresi-ekspresi yang tidak lazim dan terbarut aneh di wajah-wajah makhluk-makhluk berhasrat. Itulah, psikedelia. Tidak konkrit, sulit dijelaskan, dan tidak harus berbentuk sama seperti yang sudah-sudah alias memiliki ‘pakem’. Yah kecuali media-media profesional dan penulis ‘senior’ sudah berkehendak seperti itu, kami lepas tangan, kami hanya mengutarakan apa yang kami rasakan apa adanya. Kami bukan reformis maupun tokoh revolusioner. Kami ini anak nakal yang suka men’japit’ telinga teman-temanya sambil berteriak ‘Hey Dengarkan!’. Maka dengarkanlah, sambutlah dengan unduhan yang ikhlas dan meriah. The Kiriks dalam Metafisika.

Download
Dani Satria’s Blog

 

Sumber: http://earalertrecords.blogspot.com/2013/06/ear27-kiriks-metafisika-ep-2013.html

The Kiriks – Metafisika EP

Standard

Image

The Kiriks 

Metafisika EP
Sebuah EP pertama kami yang memang telah dikutuk untuk segera dirilis. Hanya berisikan tiga lagu
saja yang bertemakan akan sebuah hal-hal gaib untuk didengarkan pada saat hening. Suasana
mencekam pun akan melumuri ketiga lagu tersebut. Perpaduan antara apa yang alami dan apa yang
mesin membuat EP ini tidak semata-mata menjadi hiburan buat kuping, tapi akan didedikasikan
sebagai sebuah adikarya bagi manusia. The Kiriks sangat terinspirasi dari karya Kid A Radiohead
dengan suara vokal manusiawi dengan perpaduan elekltronis. Di EP ini kami memadukan apa yang
alam suarakan dengan perpaduan otak manusia di studio musik. Hasilnya, suara gagak, dengkuran
anjing, suara jangkrik menjelang subuh, dan kemenyan yang dibakar dengan perekaman yang cukup
canggih. Sebuah hasil yang akan membawa pendengar merasakan apa yang kita sebut sebagai
suasana metafisika.

Metafisika EP
| tracklist:
1. Astral Projection (4:02)
2. Asap Kemenyan (5.04)
3. Santet (3.31)
| The Kiriks adalah kolaborasi tanpa sinergis antara Dani Satria dan Anonymous The Kiriks.
The Kiriks berbasis di daerah kos-kosan sub urban Depok.
| Dikomposisi dan direkam oleh The Kiriks.
Cover art dibuat oleh The Kiriks.
| Semua lagu dikomposisi dengan studio rekaman yang bernama Belantara Studio.
Semua lagu dalam EP ini menjelaskan tentang fenomena metafisika yang ada dalam tataran personal
dan masyarakat. Sangat direkomendasikan untuk didengarkan ketika anda sendirian dengan kamar
tertutup gelap bersama sebuah lilin menyala. Ini adalah soundrack kehidupan metafisika secara
personal.
Rencananya, jika metafisika EP ini banyak diunduh dan didengarkan, kami akan segera merilis album
fisiknya. Maka dari itu, download dan sebarkan ke sanak saudara, rekan kerja, rekan nongkrong,
pacar, mantan pacar, dan teman khayalan anda.

Dani The Kiriks. 2013.