Album Review: The Legend of Tan Tieng Shin by The Kiriks

Standard
2017_09_08_32200_1504835198._large
MARCEL THEE 

THE JAKARTA POST

Jakarta | Fri, September 8, 2017 | 08:49 am

The latest album from Jakarta experimental act The Kiriks is a tribute to former Jakarta governor Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama.

Released only in digital format — and for free — on Copenhagen-based boutique label Metaphysical Circuits, the album is filled with an eclectic mix of electronic noises; bleeping and blooping without restraint, creating a cacophonous orchestra that sometimes sounds tribal and often sounds satisfyingly harsh.

The Legend of Tan Tieng Shin pays tribute to Ahok through the legend of Tan Tieng Shin, a wealthy Chinese-Indonesian who was known for sharing his wealth to help his neighbors in the villages surrounding Menteng, Central Jakarta, in the late 1800s.

According to legend, his name is the reason there is a street in that area called Karet Tengsin. Tan Tieng Shin was said to have employed many people in his field (which produced rubber, one of the reasons the area is named karet —Indonesian for rubber).

A one-man band of sorts, The Kiriks is Dani Satria. He began the project in 2013, and almost immediately released two digital albums via Yogyakarta experimental-music label Ear Alert Records before following them up with his first international release in 2014. Through the River of Zion was released on A Beard of Snails, an independent label connected with Metaphysical Circuits.

The underlying sound of Tan Tieng Shin rests on pads of droning instruments. Sometimes these are in the form of a reverb-drenched organ; sometimes in slow and lingering low hums; but mostly they are spacey synth pads. Aquatic bleeps are delivered in a modern-electronic way in “The Ecstasy of War,” while “Empty House” attacks with a mix of ambient drones and industrial music percussiveness.

“The Legend of the Drunken Master,” meanwhile, is all about a droning cathedral organ, which slowly drifts into itself as it slumbers toward its end. The two-minute “Tjahaja Purnama” is a long pulse intertwined with electric buzzes and pulsing synth sounds.

For the most part, Tieng Shin owes its sound to digital controller pads, taking a little away from the intended moodiness and losing the low-end buzz that would add plenty to projects such as these. But its intention carries the record strongly, with Dani’s arrangements carrying that sense of discomfort and, yes, bitterness, ostensibly inspired by Ahok’s trial.

“I felt beaten by [the result of Ahok’s] trial,” Dani said.

“I was shocked that he was forced into such a corner and ended up in jail.”

The album, Dani said, was his way of appreciating what Ahok had done for the city.

As to what kind of correlation Dani saw between the former governor and Tan Tieng Shin, Dani says that he saw how both people, aside from having Chinese roots, used what privilege they had to help those around them to have a better life.

Dani first heard of Tan Tieng Shin’s story when he worked as a journalist and had to interview a historian who introduced him to Tieng Shin’s story.

“I saw Ahok’s story as being a continuation of that of Tan Tieng Shin,” Dani said.

Dani also wanted the album to sound different from his other releases. In the past he had used an old unnamed organ that was on its last legs, but this time Dani wanted to utilize more explorative sounds. He wanted, in his words, “unorthodox digital sounds” for it.

The album’s production took longer than the other albums as well, lasting for more than a year until last July.

“It just so happens that this album was produced during a time when political issues were on the rise — not just here but everywhere around Southeast Asia. The atmosphere really got to me, since Indonesia is really under threat of radical organizations.”

For Dani, happy accidents are part of the charm of his latest record.

“I used an organ which I had lent to a young nephew of mine, which was already sounding bad, but then he used it and it completely broke. But somehow, it was broken in a way where a nice sounding Hammond organ-like sound would come out of it. It was beautiful.”

____________________________________

The Legend of Tan Thieng Shin can be purchased or downloaded for free at metaphysicaldigital.bandcamp.com

Advertisements

The Kiriks on Tiny Mix Tapes

Standard

The Kiriks
“Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica”

On record, friendly spikes of mid- band jut out across the empty room. The bunsen flame meddles in the fidelity. Fixing to cherry-pick, hands warmed by the flame hover over the keyboard.

Grit between intervals rubs off on the zoned-out sequence of keys, leaving fingerprints. All is calm. The sequence ambles along, hands behind its head, until The Kiriks have, prematurely, had enough. Frustrated fingers depress mash notes. This resolution entertains non-musical gesture. The room is filled now.

• A Beard of Snails: http://www.abeardofsnails.com

The Kiriks “The River of Zion” 3″

Standard

DESCRIPTION

The finest, most accessible release from Indonesia’s The Kiriks to date. Cerebral no-fi keyboard surfin’, dadaist birds; whirled peace – which may or may not be yo bidnezz – abounding.

Limited edition of 25 copies of this mini, in hand coloured / hand made gatefold sleeves.

These little discs aren’t compatible with slot-loading CD players. We’ll try to make this one available for download, though.

Sumber: http://abeardofsnails.storenvy.com/products/9952306-the-kiriks-the-river-of-zion-3

The Kiriks On Majalah Cobra

Standard

The Kiriks Akan Rilis Album Perdana di Denmark

– October 7, 2014 –

thekiriks-in

The Kiriks sudah ada sejak bulan Januari 2013 dari Jakarta, yang waktu itu bernama 21 and The Watch Tower. The Kiriks merupakan sebuah proyek bermusik dari Dani Satria yang memainkan bebunyian dan suara menjadi sebuah simfoni. Proyek ini bertujuan sebagai bentuk dekonstruksi terhadap pola-pola rekaman dan bebunyian yang biasa direkam manusia untuk dikonsumsi. Bagi The Kiriks, segala jenis bebunyian dan suara memiliki hak untuk direkam dan diapresiasi dalam ruang khusus. Tidak melulu mendengarkan bebunyian instrumental alat musik yang harmonis, sesuatu yang tidak harmonis hanyalah sebuah realitas yang dikonstruksikan. Enak atau tidak, itu hanya perlu didengarkan dan mencoba dipahami, bahwa musik yang berasal dari bebunyian dan suara, lebih dari sekedar konsep tradisional.

The Kiriks mencoba menggabungkan mengenai apa yang dihasilkan oleh mesin dan apa yang dihasilkan oleh alam. Mereka sebenarnya satu, hanya perlu sedikit diharmonisasikan saja. Musik The Kiriks bukan tipikal karya yang radikal dan benar-benar baru, melainkan hanya karya sebagai selingan bahwa musik eksperimental ini perlu dipantik sedikit. Mungkin di mancanegara sudah marak layaknya sebuah karnaval gagasan tanpa batas di senjakala postmodernisme ini. Diprediksi, Indonesia pada tahun 2015 akan lebih banyak karya-karya eksperimental yang akan terus menjadikan referensi baru bagi generasi setelahnya.

Sebelumnya, The Kiriks telah merilis dua EP secara digital melalui Ear Alert Records, sebuah netlabel asal Yogyakarta. Kedua EP tersebut sebagian besar dibuat dengan instrumen gitar dan rekaman dari keseharian kita. Metafisika EP dan Rah! EP rilis pada tahun 2013 silam, saat The Kiriks mencoba mempelajari bagaimana bentuk bunyi yang memiliki daya tolak bagi pendengaran dan kenapa bisa demikian. Dan, di album perdana yang akan dirilis secara fisik ini, The Kiriks lebih memberikan kesan yang ‘cukup’ mudah didengarkan. The River of Zion ini dibuat dengan eksperimentasi permainan piano yang dibumbui dengan suara-suara yang indah yang berasal dari alam.

Album “The River of Zion” ini akan dirilis oleh label A Beard of Snails Records dari Copenhagen, Denmark. Dirilis dalam medium CD 3” dan bisa dipesan melalui websitenya langsung. Terdapat lima konten dalam album ini, yakni:

Several Species of Small Furry Animals Gathered Together in a Cave and Grooving with a Pict Part 2

Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica

The Beagle

Human Rights Is None Of Your Business

Kibbutz

Info: http://abeardofsnails.storenvy.com/products/9952306-the-kiriks-the-river-of-zion-3

Cp: Dani Satria
081390864062 / danisatriaa@gmail.com
http://www.21andthewatchtower.wordpress.com

Sumber: http://majalahcobra.com/blog/the-kiriks-akan-rilis-album-perdana-di-denmark.html

The Kiriks On indiejakarta.com

Standard

The Kiriks Rilis Album Perdana di Denmark

Dani Satria dan Album The River of Zion/foto: dok. / unknown
By: admin indiejakarta
Posted: 06, Oct 2014

The Kiriks sudah ada sejak bulan Januari 2013 dari Jakarta, yang waktu itu bernama 21 and The Watch Tower. The Kiriks merupakan sebuah proyek bermusik dari Dani Satria yang memainkan bebunyian dan suara menjadi sebuah simfoni. Proyek ini bertujuan sebagai bentuk dekonstruksi terhadap pola-pola rekaman dan bebunyian yang biasa direkam manusia untuk dikonsumsi. Bagi The Kiriks, segala jenis bebunyian dan suara memiliki hak untuk direkam dan diapresiasi dalam ruang khusus. Tidak melulu mendengarkan bebunyian instrumental alat musik yang harmonis, sesuatu yang tidak harmonis hanyalah sebuah realitas yang dikonstruksikan. Enak atau tidak, itu hanya perlu didengarkan dan mencoba dipahami, bahwa musik yang berasal dari bebunyian dan suara, lebih dari sekedar konsep tradisional.

The Kiriks mencoba menggabungkan mengenai apa yang dihasilkan oleh mesin dan apa yang dihasilkan oleh alam. Mereka sebenarnya satu, hanya perlu sedikit diharmonisasikan saja. Musik The Kiriks bukan tipikal karya yang radikal dan benar-benar baru, melainkan hanya karya sebagai selingan bahwa musik eksperimental ini perlu dipantik sedikit. Mungkin di mancanegara sudah marak layaknya sebuah karnaval gagasan tanpa batas di senjakala postmodernisme ini. Diprediksi, Indonesia pada tahun 2015 akan lebih banyak karya-karya eksperimental yang akan terus menjadikan referensi baru bagi generasi setelahnya.

Sebelumnya, The Kiriks telah merilis dua EP secara digital melalui Ear Alert Records, sebuah netlabel asal Yogyakarta. Kedua EP tersebut sebagian besar dibuat dengan instrumen gitar dan rekaman dari keseharian kita. Metafisika EP dan Rah! EP rilis pada tahun 2013 silam, saat The Kiriks mencoba mempelajari bagaimana bentuk bunyi yang memiliki daya tolak bagi pendengaran dan kenapa bisa demikian. Dan, di album perdana yang akan dirilis secara fisik ini, The Kiriks lebih memberikan kesan yang ‘cukup’ mudah didengarkan. The River of Zion ini dibuat dengan eksperimentasi permainan piano yang dibumbui dengan suara-suara yang indah yang berasal dari alam. Album “The River of Zion” ini akan dirilis oleh label A Beard of Snails Records dari Copenhagen, Denmark. Dirilis dalam medium CD 3” dan bisa dipesan melalui websitenya langsung. Terdapat lima konten dalam album ini, yakni:

1. Several Species of Small Furry Animals Gathered Together in a Cave and Grooving with a Pict Part 2

2. Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica

3. The Beagle

4. Human Rights Is None Of Your Business

5. Kibbutz

Info: klik tautannya DISINI

Sumber: http://indiejakarta.com/index.php/news/read/203#.VDhGHmeSwTu

The Kiriks Segera Rilis Album Perdana di Denmark

Standard

storenvy_abos3-071_original

Album “The River of Zion” ini akan dirilis oleh label A Beard of Snails Records dari Copenhagen, Denmark. Dirilis dalam medium CD 3” dan bisa dipesan melalui websitenya langsung. Terdapat lima lagu dalam album ini, yakni:

Several Species of Small Furry Animals Gathered Together in a Cave and Grooving with a Pict Part 2

Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica

The Beagle

Human Rights Is None Of Your Business

Kibbutz

http://abeardofsnails.storenvy.com/products/9952306-the-kiriks-the-river-of-zion-3